Surat Terbuka Untuk Perawat dan Mantan Perawat yang telah/akan pisah dengan PPNI"

Medianers ~ Saya salut dengan sistim organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). "Mereka" Kokoh, bersatu, maju bersama, mengarungi suka-duka bersama, tidak saling klaim dan selalu berkembang sesuai peminatan, tanpa mengalami perpecahan.

IDI merupakan organisasi berlaku umum bagi dokter, baik dokter umum, dokter spesialis, maupun dokter sub spesialis. Dokter semakin ahli, bahkan semakin super ahli, tidak akan keluar dari organisasi induknya, IDI. Bahkan mereka bangga dengan "IDI" serta mengembangkan kolegium dan pendidikan spesialisasi yang tak meninggalkan kata " kedokteran."

Banyak organisasi sayap di bawah naungan IDI, tanpa perpecahan, diantara: Perdatin ( Perhimpunan Dokter Ahli Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia), kemudian IKABI ( Ikatan Ahli Bedah Indonesia / Perhimpunan Dokter Ahli Bedah Indonesia ),dll.

Dari "rahim" IKABI, telah banyak pula melahirkan sub organisasi seminat, seperti Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopi Indonesia (PBEI), Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia ( PERABOI),dll. 

Kemudian organisasi sesuai peminatan di bidang kedokteran spesialisasi lainnya, seperti THT, Penyakit Dalam, Kebidanan, dll, terus berkembang dan spesifik yang masih setia di bawah satu payung, induk organisasi bernama IDI.

Kenapa dokter ahli, dan dokter sub spesialis tidak keluar dari IDI, dan mengklaim organisasi spesialisasi barunya yang lebih bagus dibanding organisasi dasarnya ( red : IDI). Dengan organisasi spesialisasinya, tentu saja bisa berbuat lebih spesifik dan bisa lebih elegan. Ternyata, tidak dilakukan, karena mereka "hebat" karena IDI-lah, sehingga organisasi sayap dan spesial itu lahir.

Bila saya lihat ke dalam, ke organisasi profesi saya, yaitu Perawat dengan PPNI-nya, (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) tenggorokan saya seakan tercekat. Selalu, ada adengan ketidak harmonisan antara satu peminatan, dengan peminatan lainnya. Bahkan, saling klaim kehebatan dan kecongkakan, ingin keluar dari kata " Perawat." Bila tidak lagi mengaku sebagai "Perawat" otomatis keluar dari organisasi induk PPNI. Apakah malu mengakui sebagai seorang Perawat, sehingga menciptakan nama baru? 

Atau, karena bentuk ketidak puasan terhadap pengurus PPNI atau apa pasal? Mengapa kita tidak belajar pada IDI yang telah lama malang melintang di kesehatan. Lihatlah, mereka kuat, kokoh, karena memang satu "Ikatan" yang sulit terpisah dari induk, walaupun dihadapi berbagai persoalan. Sedangkan "kita" Perawat mengaku memiliki induk organisasi berawalan kata " Persatuan" tapi sangat sulit bersatu.

Silahkan, buat organisasi sayap/ kolegium tanpa meninggalkan induk yang telah membesarkan. Tidak ada yang melarang. Tapi, bila keluar tidak lagi mengakui identitas sebagai "Perawat" inilah yang sangat disayangkan. 

Entah, akhirnya saya malu sendiri. Tidak tau bagaimana caranya merubah keadaan, seakan menyesal mengenal profesi Perawat, dan sangat bersyukur telah jadi Perawat. Karena profesi ini yang telah membuat saya bisa mengenal dunia. Mengenal berbagai kharakter manusia, termasuk mengetahui lika-liku berorganisasi.

Sejawat saya, terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, terlalu mendewakan kemampuannya, sehingga meremehkan asal-muasalnya, manusia bisa berubah karena tuntutan ekonomi, manusia bisa lupa karena ambisi.

Melalui catatan ini, dengan setulus hati saya ingin sampaikan, berkacalah kita pada IDI, terutama bagi Perawat dan mantan yang pernah bergabung dengan organisasi Perawat/ PPNI), bahwa IDI anggotanya memang pilihan,  kita patut belajar berorganisasi dari mereka. Dan, bila bisa merubah keadaan mari kembali ke induk dan ayo kita muliakan, kalau masih ada kekurangan disana-sini, kitalah anak-anaknya yang wajib memperbaiki, tanpa ada perpecahan. Hendaknya, janganlah buat induk baru melalui kemampuan lobi hukum. Demikian. Baca juga : Ini Daftar Organisasi Spesialisasi Perawat di Bawah Naungan PPNI
Di sudut dapur, Anton Wijaya.